BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut O’regan et al, (2010) Pelayanan kesehatan didunia
saat ini berusaha menerapkan konsep secara holistik yaitu suatu pendekatan yang
memandang manusia secara keseluruhan meliputi pikiran, status emosi, gaya
hidup,fisik dan lingkungan sosial. Dengan itu, dalam keperawatan diperlukan
adanya suatu perubahan secara holistik dengan merubah cara pikir masyarakat
tentang jenis-jenis pelayanan kesehatan yang muncul di dalamnya. Karena
perubahan itu merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau
perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis.
Artinya dapat menyesuaikan diri dari lingkungan yang ada atau beranjak mencapai kesehatan yang optimal. Holistik juga
merupakan salah satu konsep yang mendasari tindakan keperawatan yang meliputi
dimensi fisiologis, psikologis, sosiokultural, dan spiritual. Dimensi tersebut merupakan
suatu kesatuan yang utuh.
Dalam pelayanan holistik juga dibutuhkan sikap caring dari
seorang tenaga medis karena penyakit yang dialami
seseorang bukan saja merupakan masalah fisik yang hanya
dapat diselesaikan dengan pemberian obat semata. Pelayanan keperawatan
holistik memberikan pelayanan kesehatan dengan lebih memperhatikan
keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia yang meliputi kehidupan jasmani,
mental, sosial dan spiritual yang saling mempengaruhi. Sikap caring juga harus
memperhatikan bady, mint, and spirit seseorang dan memberikan sikap empati,
respek, kesejatian terhadap orang lain.
B. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui teori-teori sikap holistik
dalam keperawatan
2.
Untuk mengetahui penerapan sikap holistik dan
caring dalam keperawatan
3.
Untuk mengetahui tindakan terhadap orang lain
secara utuh
4.
Untuk mengetahui bagaimana berfikir dan
bertindak kritis terhadap orang lain
C. Ruang Lingkup Penulisan
Dalam makalah ini, ruang
lingkup tulisan mencakup tentang konsep sehat
sakit, rentang sehat sakit, membahas tentang caring. Caring yaitu aspek
kepedulian seorang perawat kepada klien yang merupakan ciri khas dari
keperawatan. Salah satu cara yang dilakukan perawat sebagai wujud caring yaitu
empati, respect dan lain sebagainya, serta aspek holistic.Aspek komunikasi terapeutik dengan tujuan mendapatkan feedback
yang positif dari orang lain. Serta di bahas juga aspek holistic merupakan cara memahami orang lain secara
menyeluruh yang meliputi body, mind, dan spirit.
BAB
II
ILUSTRASI
KASUS
Dalam kesempatan wawancara kali ini, saya mewawancarai seorang berinisial H. Nn H berasal dari
lamongan ia adalah seorang pelajar yang masih duduk dibangku MA kelas 10 di
sekolah pesantren sendang nduwur paciran. Ia termasuk salah satu siswa yang
berprestasi dalam bidang akademik dan sering mengikuti berbagai lomba ataupun
kompetisi untuk mewakili sekolahnya serta sibuk dengan kegiatan organisasi yaitu
OSIS. Dia aktif dalam berbagai kegiatan disekolah dan pesantren sehingga ia
sering kelelahan dan jatuh sakit akan tetapi ia merasa bahwa dirinya sehat dan
kuat menjalani aktifitasnya. 3 bulan yang lalu, ia mulai merasa ada perbedaan
dalam kondisi fisiknya ketika kelelahan, dia sering merasakan ngilu di bagian
persendian dan saat dia terkena panas matahari dia merasakan panas yang lebih dibandingkan
dengan biasanya, dia berkata bahwa “rasanya panas seperti terbakar”. Sesaat
setelah merasakan panas tersebut, tubuhnya mengeluarkan bercak-bercak kemerahan
di bagian permukaan kulit. Di dunia kedokteran, penyakit tersebut biasa disebut
dengan Butterfly. Dan terkadang kakinya tidak dapat digerakkan, sering
sariawan, mens yang tidak teratur dan jika penyakit tersebut muncul maka seluruh
badan akan terasa sakit. Setalah merasakan gejala-gejala yang dialami, ia menceritakan
kepada teman dekat dan orang tuanya tentang gejala serta berubahan kondisi
tubuhnya. kemudian mereka antusias untuk memeriksakannya ke pukesmas pesantren
dulu. Dia di diagnosa terkena penyakit
Lupus dan diberi surat rajukan untuk periksa tes DNA dan diperiksa lebih lanjut
dirumah sakit. Ketika periksa dirumah sakit, dokter menanyakan dahulu
keluhan-keluhan yang ia rasakan kemudian ia diperiksa dilab untuk tes darah dan
tes urine setelah itu di periksa diradiologi untuk rontgen ternyata hasilnya
Positif bahwa Nn H dinyatakan terkena penyakit Lupus dimana Faktor
penyebab penyakit lupus kemungkinan besar adalah Keterlibatan faktor genetik,
hormon, dan lingkungan. Pengobatan penyakit lupus ini masih belum diketahui oleh
berbagai medis dan dokter menyarankan untuk segera mendapatkan suntik cairan
kedalam tubuhnya karena virus yang berada didalam tubuhnya sudah tersebar sehingga
ia membutukan dosis yang tinggi apabila pengobatan pertama kali diberi obat
padat yang dosisnya terlalu tinggi maka lambungnya tidak kuat karena ia penah
mengalami penyakit asam lambung. Setelah itu, ia sekali dalam tiga minggu harus
cek up selama 2 tahun. ia senang karena
kondisi badannya mulai membaik selama proses pengobatan, akan tetapi ia merasa sedih
juga karena banyak sekali pantangan yang harus ia lewati apalagi ia termasuk
orang yang tidak suka diatur, seperti mengurangi aktifitas, tidak boleh terlalu
banyak makan gorengan, tidak boleh terkena
asap rokok, mengkonsumsi makanan yang mengandung zat adiktif, dan ia
mengeluh ketika tidak boleh makan-makanan yang terlalu pedas. Apalagi ia harus
mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter yang harus diminum secara
teratur, dia berkata, “pokoknya rasanya gak enak banget, banyak aturan”. Akan
tetapi ia yang belum bisa mengontrol keinginan makan makanan yang pedas, ketika
selesai makan-makanan pedas ia sering mengeluh perutnya sakit. Ia mengatakan
bahwa ia menyesal tidak mengikuti anjuran dokter untuk tidak makan makanan yang
pedas. Saya menyarankan agar ia mematuhi anjuran dokter karena jika ia sakit
maka akan sangat mengganggu aktivitasnya . Ia mulai sadar bahwa menjaga
kesehatan itu penting dan ia mulai menerapkan pola hidup sehat khususnya pola
makan ataupun mengontrol aktifitas yang terlalu berat serta mematuhi saran yang
diberikan oleh dokter.
BAB
III
PEMBAHASAN
Menurut
WHO (1947) sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik,mental dan
sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Mengandung 3
karakteristik:
1.
Merefleksikan perhatikan pada individu sebagai manusia.
2.
Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan eksternal.
3.
Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif
Sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapi
merupakan penyesuaian, bukan merupakan suatu keadaan tapi merupakan proses.
Proses disini adalah adaptasi individu yang hanya terhadap fisik mereka tetapi
terhadap lingkungan sosialnya.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa:
Kesehatan adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara
sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai
satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di
dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Definisi sakit: seseorang dikatakan
sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan
lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang
sakit (istilah sehari-hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak
terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.
Berdasarkan kasus
diatas, dapat dijabarkan bahwa Nn H sering kelelahan dan jatuh
sakit ketika kegiatan aktifitasnya sangat banyak akan tetapi ia merasa bahwa
dirinya sehat dan kuat untuk menjalani aktifitasnya. ia mulai merasa ada
perbedaan dalam kondisi fisiknya dan adanya gejala –gejala yang timbul pada
dirinya, Seperti teori yang disebutkan oleh menurut Bauman (1965) Seseorang akan menggunakan 3 kriteria untuk
menentukan apakah mereka sakit: 1.Adanya
gejala: nyeri, perubahan temperatur, 2. Persepsi tentang bagaimana
mereka mengekspresikan rasa sakit yang di derita, 3. Kemampuan mereka untuk
beraktifitas seperti biasa.
Terkaitan antara konsep diatas dengan kasus yang dialami oleh klien yaitu Nn H dinyatakan
sakit karena klien mengalami perubahan kondisi dan fungsi normal tubuhnya. Hal
ini sesuai dengan pengertian sakit yang dikemukakan oleh Pemons pada tahun 1972
yaitu dapat dilihat dari kondisi Nn H . bahwa ia mulai merasa ada perubahan pada kondisi tubunya seperti
gejala- gejala yang tidak pernah ia rasakan.
Adapun kasus yang terkait dengan Nn. H bahwa Setalah
ia merasakan gejala-gejala yang dialami, ia menceritakan kepada keluarganya
tentang gejala serta berubahan kondisi tubuhnya. Hal ini berati peran keluarga dapat
mempengaruhi keyakinan dan pelaksanaan kesehatan seseorang karena keluarga yang
sehat akan membantu anggota keluarganya mencapai potensi mereka yang paling
besar. Yaitu ketika Nn H menceritakan kemudian keluarganya antusias untuk
bergegas memeriksakannya ke ahli medis.
Rentang sehat sakit
adalah suatu skala ukur hipotensis untuk mengukur keadaan sehat/ kesehatan
seseorang, kedudukan seseorang pada skala ter5sebut bersifat dinamis dan
individual karena dipengaruhi oleh faktor pribadi dan lingkungan. Pada skala
ini sewaktu – waktu seseorang bisa berada dalam keadaan sehat namun dilain
waktu bisa bergeser keadaan sakit. Tahapan sakit menurut suchman terbagi
menjadi 5 tahap yaitu:
1.
Tahap I (mengalami gejala )
Pada tahap I ini berdasarkan
kasus yang terkait diatas. Dimana Nn H mengalami gejala –gejala yang dirasakan
seperti merasa ada berbedaan dalam kondisi fisiknya ketika kelelahan, ia sering
merasakan ngilu di bagian persendian. Saat terkena panas matahari merasakan
panas yang lebih dibandingkan dengan biasanya. Sesaat setelah merasakan panas
tersebut, tubuhnya mengeluarkan bercak-bercak kemerahan di bagian permukaan
kulit, terkadang kakinya tidak dapat digerakkan, sering sariawan, mens yang
tidak teratur dan jika penyakit tersebut muncul maka seluruh badan akan terasa
sakit.
2.
Tahap II (Asumsi Tentang Peran Sakit)
Dalam
tahap II yaitu asumsi peran sakit dimana seseorang yang mengalami penegasan
atas rasa sakitnya terhadap keluarga ataupun teman dekatnya. Pada kasus diatas
bahwa Nn H menceritakan kepada teman dekatnya dan orang tuanya bahwa dia
mengalami gejala- gejala tersebut. Saat Orang tuanya mengetahui gejala yang dirasakan Nn H, mereka bergegas untuk
melakukan konsultasi kepada ahli medis.
3.
Tahap III (Kontak dengan Pelayanan Kesehatan)
Dalam tahan III yaitu kontak
pelayanan kesehatan yaitu individu atau seseorang konsultasi kepada pelayanan
kesehatan dan si klien mengatakan secara kevalidasian tentang gejala yang
dialami. Pada kasus diatas dijelaskan bahwa Nn H menceritakan gejala- gejala
yang dirasakan serta keadaan yang dirasakan.
4.
Tahap IV (Peran Klien Dependen)
Dalam tahan IV yaitu Peran
pelayanan klien dependen suatu penderita atau individu didiagnosa sakit oleh
pelayan kesehatan sehingga si klien menerima keadaan sakit dan tergantung pada
pemberi pelayanan kesehatan untuk menghilangkan gejala-gejala yang ada dan
diharapkan si klien menerima perawatan, empati, respek, kesejatian dan
perlindungan. Pada kasus diatas dijelaskan bahwa dokter mengdianognis Nn H mengidap penyakit Lupus dan dokter menyarankan untuk
segera mendapatkan suntik cairan kedalam tubuh Nn. H karena virus yang didalam tubuhnya
sudah menyebar dan menyarakan kepada Nn H untuk mengurangi
aktifitas, tidak boleh terlalu banyak makan gorengan, tidak boleh terkena asap
rokok, mengkonsumsi makanan yang mengandung zat adiktif sehingga akan membantu
proses penyembuhan.
5.
Tahap V (Pemulihan dan Rehabilitasi)
Dalam tahap V
yaitu pemulihan dan rehabilitas suatu pelayanan
yang berhak memberikan fasilitas dan pelayanan yang. Pada kasus diatas yang
terkait dimana Nn H sekali
dalam tiga minggu harus cek up selama 2 tahun untuk proses penyembuhannya.
BAB IV
KESIMPULAN
dan REFLEKSI DIRI
v Kesimpulan
Berdasarkan penulisan diatas dapat
disimpulkan bahwa setiap orang itu
presepsinya berbeda- beda tentang konsep sehat- sahit. Dengan halnya salah satu
induvidu yang kondisi fisiknya sakit tetapi ia menganggap bahwa dirinnya masih
sehat dan kuat dengan memaksakan kehendaknya dengan tetap melakukan kegiatan
yang biasanya dilakukan. Dalam melakukan praktek keperawatan membutuhkan proses
penyembuhan seorang yang tidak akan pernah komplate sebelum sadar terhadap
dirinya secara hody, mind, spirit. Seperti halnya memberikan asuhan keperawatan
holistic dengan penyembuhan secara menyeluruh baik dari
bio-psiko-sosio-cultural-spitual dan memandang pasien itu sebagai pribadi yang
unik, utuh dan berkembang. Dimana system yang yang sangat penting yaitu dengan
komunikasi terapeutik, sebuah cara sistematis yang berkaitan dengan orang lain
yang meningkatkan masalah pribadi seperti menggunakan ketrampilan komunikasi
khusus yang mendukung eksplorasi diri, dan menawarkan umpan balik kepada klien.
Asuhan keperawatan yang sangat penting dalam komunikasi teraupetik yaitu
membangun suatu hubungan dengan cara empati, respek, kesejatian, konkrit.
Membantu klien untuk mengintegrasikan pemahan tentang pola pribadi yaitu dengan
teknik empati adiktif, pengungkapan
diri, feedback, konfrontasi, kedekatan. Membantu klien dalam mengambil tindakan
dengan pemecahan masalah, mendukung, dan rencana . Dan menerapkan sikap caring
karena itu sebagai suatu kemampuan untuk derdedikasi bagi orang lain,
pengawasan waspada serta perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta
atau menyanyangi. Dengan itu masyarakat kan menilai dan mengetahui bagaimana
proses atau pelayanan yang diberikan oleh Perawat sebenarnaya.
v Refleksi Diri
Refleksi diri penulisan ini sebagai
mahasiswa mempelajari dan memahami konsep sehat-sakit. Dan apalagi kita seorang calon perawat
yang harus harus memberikan pelayanan kesehatan dengan
lebih memperhatikan keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia yang meliputi
kehidupan jasmani, mental, sosial dan spiritual yang saling mempengaruhi, harus
mampu mengembangkan
kesadaran diri, meningkatkan ketrampilan kompetesi terapeutik (kemampuan
yang menyembuhkan atau segala sesuatu yang mengfasilitasi penyembuhan), memahami
lebih dalam tentang sesuatu, menumbuhkan kesadaran dengan berbagai pengalaman,
dan mampu mengembangkan ataupun menerapkan konsep holistik dalam pelayanan kesehatan.
Sehingga perawat dan klien bisa menjalin hubungan yang sinergis dan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Potter, P. A
& Perry, A. G.(2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan : konsep, proses,
dan praktik. Jakarta: EGC
Futsal D L.
Holistic Care .Diakses pada 01 januari 2015, dari http://www.scribd.com/doc/135026468/Makalah-Holistic-Care#scribd
Angger P.(2013). Konsep Sehat dan Sakit. Diakses pada 01 Januari 2015,
dari http://angger-pratama-fkp12.web.unair.ac.id/artikel_detail-71479-Ilmu%20Keperawatan%20Dasar%20I-Konsep%20Sehat%20dan%20Sakit.html
- 18.34
- 0 Comments
