PENTINGNYA PENDEKATAN TERHADAP SESEORANG SECARA HOLISTIK

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Menurut O’regan et al, (2010) Pelayanan kesehatan didunia saat ini berusaha menerapkan konsep secara holistik yaitu suatu pendekatan yang memandang manusia secara keseluruhan meliputi pikiran, status emosi, gaya hidup,fisik dan lingkungan sosial. Dengan itu, dalam keperawatan diperlukan adanya suatu perubahan secara holistik dengan merubah cara pikir masyarakat tentang jenis-jenis pelayanan kesehatan yang muncul di dalamnya. Karena perubahan itu merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis. Artinya dapat menyesuaikan diri dari lingkungan yang ada atau beranjak  mencapai kesehatan yang optimal. Holistik juga merupakan salah satu konsep yang mendasari tindakan keperawatan yang meliputi dimensi fisiologis, psikologis, sosiokultural, dan spiritual. Dimensi tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Dalam pelayanan holistik juga dibutuhkan sikap caring dari seorang tenaga medis karena penyakit yang dialami seseorang bukan saja merupakan masalah fisik yang hanya dapat diselesaikan dengan pemberian obat semata. Pelayanan keperawatan holistik memberikan pelayanan kesehatan dengan lebih memperhatikan keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia yang meliputi kehidupan jasmani, mental, sosial dan spiritual yang saling mempengaruhi. Sikap caring juga harus memperhatikan bady, mint, and spirit seseorang dan memberikan sikap empati, respek, kesejatian terhadap orang lain.

B.      Tujuan Penulisan
1.       Untuk mengetahui teori-teori sikap holistik dalam keperawatan
2.       Untuk mengetahui penerapan sikap holistik dan caring dalam keperawatan
3.       Untuk mengetahui tindakan terhadap orang lain secara utuh
4.       Untuk mengetahui bagaimana berfikir dan bertindak kritis terhadap orang lain

C.      Ruang Lingkup Penulisan
Dalam makalah ini, ruang lingkup tulisan mencakup tentang konsep sehat sakit, rentang sehat sakit, membahas tentang caring. Caring yaitu aspek kepedulian seorang perawat kepada klien yang merupakan ciri khas dari keperawatan. Salah satu cara yang dilakukan perawat sebagai wujud caring yaitu  empati, respect dan lain sebagainya, serta aspek holistic.Aspek komunikasi terapeutik dengan tujuan mendapatkan feedback yang positif dari orang lain. Serta di bahas juga aspek holistic merupakan cara memahami orang lain secara menyeluruh yang meliputi body, mind, dan spirit.




BAB II
ILUSTRASI KASUS
Dalam kesempatan wawancara kali ini, saya mewawancarai seorang berinisial H. Nn H berasal dari lamongan ia adalah seorang pelajar yang masih duduk dibangku MA kelas 10 di sekolah pesantren sendang nduwur paciran. Ia termasuk salah satu siswa yang berprestasi dalam bidang akademik dan sering mengikuti berbagai lomba ataupun kompetisi untuk mewakili sekolahnya  serta sibuk dengan kegiatan organisasi yaitu OSIS. Dia aktif dalam berbagai kegiatan disekolah dan pesantren sehingga ia sering kelelahan dan jatuh sakit akan tetapi ia merasa bahwa dirinya sehat dan kuat menjalani aktifitasnya. 3 bulan yang lalu, ia mulai merasa ada perbedaan dalam kondisi fisiknya ketika kelelahan, dia sering merasakan ngilu di bagian persendian dan saat dia terkena panas matahari  dia merasakan panas yang lebih dibandingkan dengan biasanya, dia berkata bahwa “rasanya panas seperti terbakar”. Sesaat setelah merasakan panas tersebut, tubuhnya mengeluarkan bercak-bercak kemerahan di bagian permukaan kulit. Di dunia kedokteran, penyakit tersebut biasa disebut dengan Butterfly. Dan terkadang kakinya tidak dapat digerakkan, sering sariawan, mens yang tidak teratur dan jika penyakit tersebut muncul maka seluruh badan akan terasa sakit. Setalah merasakan gejala-gejala yang dialami, ia menceritakan kepada teman dekat dan orang tuanya tentang gejala serta berubahan kondisi tubuhnya. kemudian mereka antusias untuk memeriksakannya ke pukesmas pesantren dulu. Dia  di diagnosa terkena penyakit Lupus dan diberi surat rajukan untuk periksa tes DNA dan diperiksa lebih lanjut dirumah sakit. Ketika periksa dirumah sakit, dokter menanyakan dahulu keluhan-keluhan yang ia rasakan kemudian ia diperiksa dilab untuk tes darah dan tes urine setelah itu di periksa diradiologi untuk rontgen ternyata hasilnya Positif bahwa Nn H dinyatakan terkena penyakit Lupus dimana Faktor penyebab penyakit lupus kemungkinan besar adalah Keterlibatan faktor genetik, hormon, dan lingkungan. Pengobatan penyakit lupus ini masih belum diketahui oleh berbagai medis dan dokter menyarankan untuk segera mendapatkan suntik cairan kedalam tubuhnya karena virus yang berada didalam tubuhnya sudah tersebar sehingga ia membutukan dosis yang tinggi apabila pengobatan pertama kali diberi obat padat yang dosisnya terlalu tinggi maka lambungnya tidak kuat karena ia penah mengalami penyakit asam lambung. Setelah itu, ia sekali dalam tiga minggu harus cek up selama 2 tahun.  ia senang karena kondisi badannya mulai membaik selama proses pengobatan, akan tetapi ia merasa sedih juga karena banyak sekali pantangan yang harus ia lewati apalagi ia termasuk orang yang tidak suka diatur, seperti mengurangi aktifitas, tidak boleh terlalu banyak makan gorengan, tidak boleh terkena  asap rokok, mengkonsumsi makanan yang mengandung zat adiktif, dan ia mengeluh ketika tidak boleh makan-makanan yang terlalu pedas. Apalagi ia harus mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter yang harus diminum secara teratur, dia berkata, “pokoknya rasanya gak enak banget, banyak aturan”. Akan tetapi ia yang belum bisa mengontrol keinginan makan makanan yang pedas, ketika selesai makan-makanan pedas ia sering mengeluh perutnya sakit. Ia mengatakan bahwa ia menyesal tidak mengikuti anjuran dokter untuk tidak makan makanan yang pedas. Saya menyarankan agar ia mematuhi anjuran dokter karena jika ia sakit maka akan sangat mengganggu aktivitasnya . Ia mulai sadar bahwa menjaga kesehatan itu penting dan ia mulai menerapkan pola hidup sehat khususnya pola makan ataupun mengontrol aktifitas yang terlalu berat serta mematuhi saran yang diberikan oleh dokter.



BAB III
PEMBAHASAN
                Menurut WHO (1947) sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik,mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Mengandung 3 karakteristik:
1.       Merefleksikan perhatikan pada individu sebagai manusia.
2.       Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan eksternal.
3.       Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif
Sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapi merupakan penyesuaian, bukan merupakan suatu keadaan tapi merupakan proses. Proses disini adalah adaptasi individu yang hanya terhadap fisik mereka tetapi terhadap lingkungan sosialnya.
UU No.23,1992 tentang  Kesehatan menyatakan bahwa:
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari-hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.
Berdasarkan kasus diatas, dapat dijabarkan bahwa Nn H sering kelelahan dan jatuh sakit ketika kegiatan aktifitasnya sangat banyak akan tetapi ia merasa bahwa dirinya sehat dan kuat untuk menjalani aktifitasnya. ia mulai merasa ada perbedaan dalam kondisi fisiknya dan adanya gejala –gejala yang timbul pada dirinya, Seperti teori yang disebutkan oleh menurut Bauman (1965) Seseorang akan menggunakan 3 kriteria untuk menentukan apakah mereka sakit: 1.Adanya gejala: nyeri, perubahan temperatur, 2. Persepsi tentang bagaimana mereka mengekspresikan rasa sakit yang di derita, 3. Kemampuan mereka untuk beraktifitas seperti biasa.
Terkaitan antara konsep diatas dengan kasus yang dialami oleh klien yaitu  Nn H dinyatakan sakit karena klien mengalami perubahan kondisi dan fungsi normal tubuhnya. Hal ini sesuai dengan pengertian sakit yang dikemukakan oleh Pemons pada tahun 1972 yaitu dapat dilihat dari kondisi Nn H . bahwa ia mulai merasa ada perubahan pada kondisi tubunya seperti gejala- gejala yang tidak pernah ia rasakan.
Adapun kasus yang terkait dengan Nn. H bahwa Setalah ia merasakan gejala-gejala yang dialami, ia menceritakan kepada keluarganya tentang gejala serta berubahan kondisi tubuhnya.  Hal ini berati peran keluarga dapat mempengaruhi keyakinan dan pelaksanaan kesehatan seseorang karena keluarga yang sehat akan membantu anggota keluarganya mencapai potensi mereka yang paling besar. Yaitu ketika Nn H menceritakan kemudian keluarganya antusias untuk bergegas memeriksakannya ke ahli medis.
                Rentang sehat sakit adalah suatu skala ukur hipotensis untuk mengukur keadaan sehat/ kesehatan seseorang, kedudukan seseorang pada skala ter5sebut bersifat dinamis dan individual karena dipengaruhi oleh faktor pribadi dan lingkungan. Pada skala ini sewaktu – waktu seseorang bisa berada dalam keadaan sehat namun dilain waktu bisa bergeser keadaan sakit. Tahapan sakit menurut suchman terbagi menjadi 5 tahap yaitu:
1.       Tahap I (mengalami gejala )
Pada tahap I ini berdasarkan kasus yang terkait diatas. Dimana Nn H mengalami gejala –gejala yang dirasakan seperti merasa ada berbedaan dalam kondisi fisiknya ketika kelelahan, ia sering merasakan ngilu di bagian persendian. Saat terkena panas matahari merasakan panas yang lebih dibandingkan dengan biasanya. Sesaat setelah merasakan panas tersebut, tubuhnya mengeluarkan bercak-bercak kemerahan di bagian permukaan kulit, terkadang kakinya tidak dapat digerakkan, sering sariawan, mens yang tidak teratur dan jika penyakit tersebut muncul maka seluruh badan akan terasa sakit.
2.       Tahap II (Asumsi Tentang Peran Sakit)
Dalam tahap II yaitu asumsi peran sakit dimana seseorang yang mengalami penegasan atas rasa sakitnya terhadap keluarga ataupun teman dekatnya. Pada kasus diatas bahwa Nn H menceritakan kepada teman dekatnya dan orang tuanya bahwa dia mengalami gejala- gejala tersebut. Saat Orang tuanya mengetahui gejala  yang dirasakan Nn H, mereka bergegas untuk melakukan konsultasi kepada ahli medis.
3.       Tahap III (Kontak dengan Pelayanan Kesehatan)
Dalam tahan III yaitu kontak pelayanan kesehatan yaitu individu atau seseorang konsultasi kepada pelayanan kesehatan dan si klien mengatakan secara kevalidasian tentang gejala yang dialami. Pada kasus diatas dijelaskan bahwa Nn H menceritakan gejala- gejala yang dirasakan serta keadaan yang dirasakan.
4.       Tahap IV (Peran Klien Dependen)
Dalam tahan IV yaitu Peran pelayanan klien dependen suatu penderita atau individu didiagnosa sakit oleh pelayan kesehatan sehingga si klien menerima keadaan sakit dan tergantung pada pemberi pelayanan kesehatan untuk menghilangkan gejala-gejala yang ada dan diharapkan si klien menerima perawatan, empati, respek, kesejatian dan perlindungan. Pada kasus diatas dijelaskan bahwa dokter mengdianognis Nn H mengidap penyakit Lupus dan dokter menyarankan untuk segera mendapatkan suntik cairan kedalam tubuh Nn. H karena virus yang didalam tubuhnya sudah menyebar dan menyarakan kepada Nn H untuk mengurangi aktifitas, tidak boleh terlalu banyak makan gorengan, tidak boleh terkena asap rokok, mengkonsumsi makanan yang mengandung zat adiktif sehingga akan membantu proses penyembuhan.
5.       Tahap V (Pemulihan dan Rehabilitasi)
Dalam tahap V yaitu pemulihan dan rehabilitas  suatu pelayanan yang berhak memberikan fasilitas dan pelayanan yang. Pada kasus diatas yang terkait dimana Nn H sekali dalam tiga minggu harus cek up selama 2 tahun untuk proses penyembuhannya.


                 
BAB IV
KESIMPULAN dan REFLEKSI DIRI
v  Kesimpulan
Berdasarkan penulisan diatas dapat disimpulkan bahwa  setiap orang itu presepsinya berbeda- beda tentang konsep sehat- sahit. Dengan halnya salah satu induvidu yang kondisi fisiknya sakit tetapi ia menganggap bahwa dirinnya masih sehat dan kuat dengan memaksakan kehendaknya dengan tetap melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan. Dalam melakukan praktek keperawatan membutuhkan proses penyembuhan seorang yang tidak akan pernah komplate sebelum sadar terhadap dirinya secara hody, mind, spirit. Seperti halnya memberikan asuhan keperawatan holistic dengan penyembuhan secara menyeluruh baik dari bio-psiko-sosio-cultural-spitual dan memandang pasien itu sebagai pribadi yang unik, utuh dan berkembang. Dimana system yang yang sangat penting yaitu dengan komunikasi terapeutik, sebuah cara sistematis yang berkaitan dengan orang lain yang meningkatkan masalah pribadi seperti menggunakan ketrampilan komunikasi khusus yang mendukung eksplorasi diri, dan menawarkan umpan balik kepada klien. Asuhan keperawatan yang sangat penting dalam komunikasi teraupetik yaitu membangun suatu hubungan dengan cara empati, respek, kesejatian, konkrit. Membantu klien untuk mengintegrasikan pemahan tentang pola pribadi yaitu dengan teknik  empati adiktif, pengungkapan diri, feedback, konfrontasi, kedekatan. Membantu klien dalam mengambil tindakan dengan pemecahan masalah, mendukung, dan rencana . Dan menerapkan sikap caring karena itu sebagai suatu kemampuan untuk derdedikasi bagi orang lain, pengawasan waspada serta perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyanyangi. Dengan itu masyarakat kan menilai dan mengetahui bagaimana proses atau pelayanan yang diberikan oleh Perawat sebenarnaya.
v  Refleksi Diri
Refleksi diri  penulisan ini sebagai mahasiswa mempelajari dan memahami konsep sehat-sakit. Dan apalagi kita seorang calon perawat yang harus harus memberikan pelayanan kesehatan dengan lebih memperhatikan keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia yang meliputi kehidupan jasmani, mental, sosial dan spiritual yang saling mempengaruhi, harus mampu mengembangkan kesadaran diri, meningkatkan ketrampilan kompetesi terapeutik (kemampuan yang menyembuhkan atau segala sesuatu yang mengfasilitasi penyembuhan), memahami lebih dalam tentang sesuatu, menumbuhkan kesadaran dengan berbagai pengalaman, dan mampu mengembangkan ataupun menerapkan konsep holistik dalam pelayanan kesehatan. Sehingga perawat dan klien bisa menjalin hubungan yang  sinergis dan baik.





DAFTAR PUSTAKA
Potter, P. A & Perry, A. G.(2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan : konsep, proses, dan praktik. Jakarta: EGC
Futsal D L. Holistic Care .Diakses pada 01 januari 2015, dari http://www.scribd.com/doc/135026468/Makalah-Holistic-Care#scribd

APENDISITIS


Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks (Defa Arisandi, 2008). Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001). Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks (Anonim, Apendisitis, 2007). Apendisitis adalah peradangan dari apendik periformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Dermawan & Rahayuningsih ,2010).
Menurut David Joseph dalam South African Medical Journal tahun 2007, angka kejadian terjadinya perforasi pada apendisitis adalah 20–30%. Menurut David A. Guss dalam The American Journal of Emergency Medicine tahun 2000, insidensi apendisitis perforasi pada laki-laki sebanyak 38,7% dan wanita 23,5%. Insidens perforasi pada apendiks adalah 10% sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia (Smeltzer dan Brenda, 2001). Angka kejadian apendisitis di negara berkembang seperti Indonesia mengalami kenaikkan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan perubahan gaya hidup manusianya (Santacroce, 2005). Indikasi ini terlihat dari insidensi penderita apendisitis di Indonesia menduduki urutan ke empat terbanyak di dunia pada tahun 2006. Satu dari 15 orang pernah menderita apendisitis dalam hidupnya. Insiden tertingginya terdapat pada laki-laki usia 10-14 tahun dan wanita yang berusia 15-19 tahun. Laki-laki lebih banyak menderita apendisitis dari pada wanita pada usia pubertas dan pada usia 25 tahun (Eylin, 2009). Kemudian dari data yang dirilis oleh Depkes RI pada tahun 2008  jumlah penderita apendisitis di indonesia mencapai 591.819 orang dan meningkat pada tahun 2009 sebesar 596.132 orang.

A.    Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. histolytica (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada faktor prediposisi yaitu:
1.      Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena:
a.       Heperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak.
b.      Adanya faekolit dalam lumen appendiks.
c.       Adanya benda asing seperti biji – bijian.
d.      Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
2.      Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus.
3.      Laki – laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
4.      Tergantung pada bentuk appendiks
a.       Appendik terlalu panjang
b.      Massa apendiks yang pendek
c.       Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
d.      Kelainan katup di pangkal appendiks

B.     Manifestasi Klinis
Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan terkadang muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat celcius.
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut:
1.      Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal.
2.      Bila apendiks terletak di rongga pelvis
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare).
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya.
Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas.
1.      Pada anak-anak
Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan. Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntah- muntah dan anak menjadi lemah dan letargik. Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.
2.      Pada orang tua berusia lanjut
Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.
3.      Pada wanita
Gejala apendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.
C.    Faktor Risiko
Faktor Risiko yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya :
1.      Faktor sumbatan
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obsrtruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-macam apendisitis akut diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana, 65% pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis akut dengan rupture.
2.      Faktor Bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis akut. Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus, sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob<10%.
3.      Kecenderungan familiar
Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang herediter dari organ, apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang mudah terjadi apendisitis. Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekolith dan mengakibatkan obstruksi lumen.
4.      Faktor ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari. Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resikolebih tinggi dari Negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko apendisitis yang lebih tinggi.
5.      Faktor infeksi saluran pernapasan
Setelah mendapat penyakit saluran pernapasan akut terutama epidemi influenza dan pneumonitis, jumlah kasus apendisitis ini meningkat. Tapi harus hati-hati karena penyakit infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan seperti gejala permulaan apendisitis.

D.    Patofisiologi
Apendisitis biasannya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing stiktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri dan uulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokat yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini tersebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa . Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.

Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul satu massa lokal yang disebut infiltrat apendikularis . Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kaeran omentum lebih pendek dan apeks lebih panjang, dinding apenks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadi perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer,2007).
A.    Klasifikasi Apendisitis
Adapun klasifikasi apendisitis menurut Syamsuhidjayat (2004), mengatakan bahwa Apendisitis terdiri dari lima bagian antara lain:
1.      Apendisitis Akut
Apendisitis akut adalah peradangan apendiks yang timbul meluas dan mengenai peritoneum pariental setempat sehingga menimbulkan rasa sakit di abdomen kanan bawah. Hal ini akan menyebabkan peritonitis. Peritonitis merupakan proses peradangan lokal atau umum pada peritoneum. Peritonitis  disertai rasa sakit yang semakin hebat, rasa nyeri, kembung, demam dan keracunan.
2.      Apendisitis Infiltrat (Masa Periapendikuler)
Apendisitis infiltrat atau masa periapendikuler terjadi bila apendisitis ganggrenosa  di tutupi pendinginan oleh omentum.
3.      Apendisitis Perforata
Ada fekalit didalam lumen, umur (orang tua atau anak muda) dan keterlambatan diagnosa merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya perforasi apendiks karena dinding apendiks mengalami ganggren, rasa sakit yang bertambah, demam tinggi, rasa nyeri yang menyebar dan jumlah leukosit yang tinggi merupakan tanda kemungkinan terjadinya perforasi.
4.      Apendisitis Rekuren
Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh spontan, namun apendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan jaringan parut. Resikonya untuk terjadinya serangan lagi sekitar 50%.
5.      Apendisitis Kronis
Fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama di mukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.
Skor alvarado adalah suatu sistem skoring yang digunakan untuk mendiagnosis apendisitis akut. Skor ini mempunyai 6 komponen klinik dan 2 komponen laboratorium dengan total skor poin 10. Skor ini dikemukakan oleh Alfredo Alvarado dalam laporannya pada tahun 1986.Adapun cara pengkajian penyakit apendisitis akut dapat menggunakan Alvarado score:
1.      Skor 1-4
Tidak dipertimbangkan mengalami apendisitis akut
2.      Skor 5-6
Dipertimbangkan kemungkinan Dx apendisitis akut tetapi tidak memerlukan tindakan operasi segera.
3.      Skor 7-8
Dipertimbangkan kemungkinan mengalami apendisitis akut.
4.      Skor 9-10
Hampir definitif mengalami apendisitis akut dan dibutuhkan tindakan bedah

A.    Penatalaksanaan

1.      Tindakan Medis
a.       Observasi terhadap diagnosa
Dalam 8 – 12 jam pertama setelah timbul gejala dan tanda apendisitis, sering tidak terdiagnosa, dalam hal ini sangat penting dilakukan observasi yang cermat. Penderita dibaringkan ditempat tidur dan tidak diberi apapun melalui mulut. Bila diperlukan maka dapat diberikan cairan aperviteral. Hindarkan pemberian narkotik jika memungkinkan, tetapi obat sedatif seperti barbitural atau penenang tidak karena merupakan kontra indikasi. Pemeriksaan abdomen dan rektum, sel darah putih dan hitung jenis di ulangi secara periodik. Perlu dilakukan foto abdomen dan thorak posisi tegak pada semua kasus apendisitis, diagnosa dapat jadi jelas dari tanda lokalisasi kuadran kanan bawah dalam waktu 24 jam setelah timbul gejala.
b.      Intubasi
Dimasukkan pipa naso gastrik preoperatif jika terjadi peritonitis atau toksitas yang menandakan bahwa ileus pasca operatif yang sangat menggangu. Pada penderita ini dilakukan aspirasi kubah lambung jika diperlukan. Penderita dibawa kekamar operasi dengan pipa tetap terpasang.
c.       Antibiotik
Pemberian antibiotik preoperatif dianjurkan pada reaksi sistematik dengan toksitas yang berat dan demam yang tinggi(Mansjoer, 2000).
2.      Terapi Bedah
Pada apendisitis tanpa komplikasi, apendiktomi dilakukan segera setelah terkontrol ketidakseimbangan cairan dalam tubuh dan gangguan sistematik lainnya. Biasanya hanya diperlukan sedikit persiapan. Pembedahan yang direncanakan secara dini baik mempunyai  praksi mortalitas 1 % secara primer  angka morbiditas dan mortalitas penyakit ini tampaknya disebabkan oleh komplikasi ganggren dan perforasi yang terjadi akibat yang tertunda (Mansjoer, 2000).
3.      Terapi Pasca Operasi
Perlu dilakukan obstruksi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan didalam, syok hipertermia, atau gangguan  pernapasan angket sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai  15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam.  Keesokan harinya diberikan makan saring, dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk  diluar kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.  (Mansjoer, 2000).
  1. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Apendisitis
1.      Pengkajian
a. Identitas klien
b. Riwayat Keperawatan
1)      riwayat kesehatan saat ini ; keluhan nyeri pada luka post operasi apendektomi, mual muntah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan leukosit.
2)      Riwayat kesehatan masa lalu
3)      pemeriksaan fisik
a)      Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
b)      Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan splenomegali.
c)      Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
d)     Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
e)      Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.
4)      Pemeriksaan penunjang
a)      Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi.
b)      Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca pembedahan.
2.      Diagnosa Keperawatan Apendisitis
a.      Pre operasi
1)      Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah pre operasi.
2)      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi.
3)      Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
b.      Post operasi
1)      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya luka post operasi apendektomi.
2)      Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berkurang berhubungan dengan anorexia, mual.
3)      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah. Kurang pengetahuan tentang perawatan dan penyakit berhubungan dengan kurang informasi.
3.      Perencanaan
a.        Persiapan umum operasi
Hal yang bisa dilakukan oleh perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum operasi :
1)      Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan).
2)      Mengukur TTV
3)      Mengukur berat badan dan tinggi badan.
4)      Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (Ht, Serum Glukosa, Urinalisa).
5)      Wawancara.
4.      Persiapan klien malam sebelum operasi
Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi :
a)      Persiapan kulit
1)      kulit merupakan pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit. Karena operasi merusak integritas kulit maka akan menyebabkan resiko terjadinya ifeksi.
2)      Beberapa ahli bedah lebih menyukai mencukur rambut karena bisa mengganggu prosedur operasi.
b)      Persiapan saluran cerna
Persiapan kasus yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk :
1)      Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi.
2)      Mengurangi kemungkinan obstruksi usus.
3)      Mencegah infeksi faeses saat operasi.
Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan :
a.       Puasa dan pembatasan makan dan minum.
1)      Pemberian enema jika perlu.
2)      Memasang tube intestine atau gaster jika perlu.
3)      Jika klien menerimaanastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 - 10 jam sebelum operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro intestinal diberikan malam sebelum atau pagi sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gester.
b.      Persiapan untuk anastesi
c.       Ahli anastesi selalu berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melekukan pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan menunjukkan tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi.
d.      Meningkatkan istirahat dan tidur
e.       Klien pre operasi akan istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada gangguan fisik, tenaga mentalnya dan diberi sedasi yang cukup.
f.       Persiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obat-obatan pre operasi :
1. Mencatat tanda-tanda vital
2. Cek gelang identitas klien
3. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik
4. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus
 Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam terakhir
6. Anjurkan klien untuk buang air kecil
7. Perawatan mulut jika perlu
8. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala
9. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih mudah.
            4. Interpesi pre operasi 
1. Obsevasi tanda-tanda vital
2. Kaji intake dan output cairan
3. Auskultasi bising usus
4.  Kaji status nyeri : skala, lokasi, karakteristik
5. Ajarkan tehnik relaksasi
6. Beri cairan intervena
5.  kaji tingkat ansietas
6. Beri informasi tentang proses penyakit dan tindakan
5. Intervensi post operasi
1. Observasi tanda-tanda vital
2. Kaji skala nyeri : Karakteristik, skala, lokasi
3. Kaji keadaan luka
4. Anjurkan untuk mengubah posisi seperti miring ke kanan, ke kiri dan duduk
5. Kaji status nutrisi6. Auskultasi bising usus
7. Beri informasi perawatan luka dan penyakitnya.
6. Evaluasi
1). Gangguan rasa nyaman teratasi
2)  Tidak terjadi infeksi
3) Gangguan nutrisi teratasi
4) Klien memahami tentang perawatan dan penyakitnya
5) Tidak terjadi penurunan berat badan
6) Tanda-tanda vital dalam batas normal
DAFTAR PUSTAKA

Huether SE. Alterations of digestive system. In: McCance KL, Huether SE. Patophysiology
5th Ed.Evolve, 2006: 1385-1446
Burner and suddarth, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,-edisi 8,-volume 2,
Jakarta : EGC.
Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses Penyakit, Buku Pertama. Edisi
4. Jakarta. EGC.
Brunner dan Sudarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 2, Alih
Bahasa dr. H. Y. Kureasa, Editor Monica Ester, SKp. Jakarta : EGC.
R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi II, Jakarta : EGC.
Doengoes, Marilynn, E., 2000, RencanaAsuhanKeperawatan, EGC, Jakarta.
Mansjoer, Arif, 2000, KapitaSelektaKedokteran, Media Aesculapius, FKUI,Jakarta.
Smeltzer, C. Suzanne,  C. Brenda, G. Bare, 2001, Buku Ajar KeperawatanMedikalBedah,
Brunner &Suddarth, EGC, Jakarta.

Pengikut

Total Tayangan Halaman