TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK PADA PENYAKIT HALUSINASI

09.05

RESUME JURNAL
TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK PADA PENYAKIT HALUSINASI


Meningkatkan kemampuan mengontol halusinasi dapat dilakukan dengan cara pemberian terapi aktifitas kelompok stimulus persepsi. Menurut keliat (2004),terapi aktifitas kelompok stimulus persepsi adalah terapi aktifitas yang dengan menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan  kehidupan yang selanjutnya akan didiskusikan dalam sebuah kelompok. Pengalaman dalam mengontol halususinasi dan pengenalan dapat dilakukan dengan dua acara yaitu secara individu mengunggunakan cara face to face sedangkan secara kelompok dikenal sebagai terapi aktifitas kelompok (TAK) (Gunderson, 1984 dikutip dari Daley & Salloum, 2001). Tujuan umum untuk mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi terhadap kemampuan pasien skizofrenia mengontrol halusinasi. Tujuan khusus untuk mengidentifikasi kemampuan pasien skizoprenia mengontrol halusinasi sebelum dan setelah diberikan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi. Hal bisa ini dapat diaplikasikan bagi pasien yang mengalami halusinasi sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengontrol halusinasi.
Menurut Kusmawati dan Hartono (2011) hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar) disebut Halusinasi yang dimana klien memberi persepsi atau rangsangan yang nyata atau pendapatan tentang lingkungan tanpa objek. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah salah satu  dari penatalaksanaan pada pasien halusinasi. Dari 20 pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi sebanyak 10 orang dengan persentase sebesar 50% berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 10 orang dengan persentase sebesar 50% berjenis kelamin perempuan.  sebagian besar yaitu 16 orang dengan persentase 80% memiliki kemampuan mengontrol halusinasi kurang sebelum dilakukan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi orang dengan persentase sebesar memiliki kemampuan mengontrol halusinasi katagori cukup. hal tersebut terjadi karena semua responden belum pernah mendapat pengetahuan tentang pengenalan halusinasi yang dialami dan cara mengontrol bila halusinasi muncul. Dari 20 pasien skizofrenia mengontrol halusinasi sebagian besar yaitu 18 orang mengalami kemampuan yang baik dengan persentase 90% dan sebanyak 2 orang dengan persentase sebesar 10%  mengalami kemampuan cukup. terjadinya peningkatan kemampuan mengontrol halulusinasi setelah diberikan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi disebabkan karena dapat merangsang atau menstimulasikan responden melalui kegiatan yang disukainya dan mendiskusikan aktivitas yang telah dilakukan dengan tujuan membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladatif.(1)

Menurut kaliat & akemat (2005) terapi aktifitas kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu stimulus perspsi ,stimulus sensoris , orientasi realita, dan sosialisasi Menurut  Chaudhury (2010), Psikoterapi induvidu dan terapi kelompok merupakan salah satu terapi mododalitas yang diberikan pada klien skizofrenia yang mengalami halusinasi.terapi kelompok adalah metode pengobatan yang tenaganya memenuhi persyaratan tertentu dimana klien dapat ditemui dalam kesepakatan waktu.sedangkan fokus terapi adalah menjadikan klien pulih atau sadar diri, bisa membuat perubahan,peningkatan hubungan interpersonal atau ketiganya.(1)Tercapainya kemandirian bagi pasien yaitu  ditinjau dari pandangan kesehatan jiwa dalam target terapi kelompok adalah kemampuan seseorang untuk mengontrol tindakan, perasaan dan pengambilan keputusan sendiri. Diharapkan respon yang timbul dari diri pasien terhadap berbagai stimulus yang adaftif dalam kehidupan yaitu dengan melatih klien memersepsikan stimulus yang disediakan atau yang pernah terjadi padanya.(2)
           
Pasien yang banyak pengalaman akan mendapat lebih banyak informasi dan upan balik dari anggota kelompok lainnya karena frekuensi halusinasi akan menurun lewat kegiatan TAK yang berpengaruh  sehingga stimulasi persepsi responden mendapat pengalaman satu sama lain. Dari situlah terapi aktifitas kelompok pasien ingin mengungkapkan komunikasinya secara verbal pada saat mengikuti TAK.(3) Halusinasi pendengaran ( juga dikenal sebagai suara ) adalah yang paling umum melaporkan bentuk halusinasi dan memiliki prevalensi seumur hidup dari 70 % pada individu didiagnosis dengan gangguan skizofrenia dan terkait ( Landmark , Merskey , Cernovsky , & Helmes , 1990) .(4)  terapi ini juga  dapat dibuktikan bisa mengurangi efek halusinasi.(5) Pasien akan mengidap gangguan dalam mempersepsikan stimulus yang dialaminya karena klien dianggap penilaiannya negatif sehingga klien cenderung akan memendam perasaan dan klien akan mencari solusi yang menurutnya baik yang akan mengakibatkan dirinya mulai memikirkan hal-hal yang menurutnya menyenangkan yang akan menarik dirinya sendiri.dan karena itulah klien belum mampu mengubah perilaku dan pikiran positif.(6)

Empat terapi aktifitas kelompok yaitu : terapi aktifitas kelompok sosialisasi, stimulasi persepsi, stimulasi sensori, dan orientasi realita. Menurut Keliat dan Akemat (2005) dikutip dari Hamid (2008), TAK yang sesuai untuk pasien dengan masalah utama perubahan sensori persepsi : halusinasi adalah aktivitas berupa stimulasi dan persepsi.(7) Terapi kelompok ini ada bebagai macam sesi yang dilakukan pada sesi pertama pasien akan diajarkan untuk mengenal halusinasi, sesi 2 mengontrol halusinasi dengan menghardik, sesi 3 mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan, sesi 4 mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain dan sesi ke 5 dengan patuh minum obat.yang akan memberikan pemulihan kesehatan, memberikan dampak positif dalam upaya pencegahan atau pengobatan. Menurut Purwarningsih dan Ina (2010) Stimulasi Persepsi ini sebagai upaya untuk memotivasi proses berpikir, mengenal halusinasi, melatih pasien mengontrol halusinasi serta mengurangi perilaku maladaptive yang merupakan hasil dari aktifitas kelompok.(8)

Dari pembahasan diatas bahwa Terapi Aktifitas  kelompok TAK berpengaruh terhadap kemampuan pasien mengontrol halusinasi karena pasien mau mengungkapkan komunikasi verbal pada saat TAK, dengan mengikuti TAK, frekuensi halusinasi akan menurun, melalui kegiatan TAK stimulasi persepsi, responden akan mendapatkan pengalaman satu dengan yang lain antara pasien, dengan berbagi pengalaman pasien akan lebih banyak mendapatkan informasi dan akan dengan segera mendapatkan umpan balik dari anggota kelompok lain.






DAFTAR PUSTAKA
1.        Utami NWSR, Sutresna IN, K.P PW. Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. J Dunia Kesehat. 2007;3(2):25–30.
2.        Handayani D, Sriati A, Widianti E. Tingkat Kemandirian Pasien Mengontrol Halusinasi setelah Terapi Aktivitas Kelompok. J Keperawatan Padjadjaran [Internet]. 2013;1(1). Available from: http://128.199.73.20/jkp/index.php/jkp/article/viewFile/52/49
3.        Purba T, Nauli FA, Utami S, Studi P, Keperawatan I, Riau U. PROVINSI RIAU. 2004;
4.        Hayward M, Berry K, Ashton A. Applying interpersonal theories to the understanding of and therapy for auditory hallucinations: A review of the literature and directions for further research. Clin Psychol Rev [Internet]. Elsevier Ltd; 2011;31(8):1313–23. Available from: http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0272735811001425
5.        Morrison AP, Renton JC. Cognitive therapy for auditory hallucinations: A theory-based approach. Cogn Behav Pract. 2001;8(1997):147–60.
6.        Musa SA. STIMULUS PADA PASIEN HALUSINASI DI RUMAH SAKIT JIWA PROF . DR . V . L . RATUMBUYSANG SULAWESI UTARA. 2015;3.
7.        Angriani S, Sultan LN, Nani S, Makassar H. Persepsi Terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Halusinasi Pendengaran Di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. 2012;1:1–7.
8.        Co-investigator N. No Title No Title. J Chem Inf Model. 2013;53:1689–99.

You Might Also Like

0 komentar

Pengikut

Total Tayangan Halaman