APENDISITIS
18.17
Apendisitis merupakan
peradangan pada usus buntu/apendiks (Defa Arisandi, 2008). Apendisitis
akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga
abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001). Apendisitis merupakan peradangan pada
usus buntu/apendiks (Anonim, Apendisitis, 2007). Apendisitis adalah peradangan dari apendik periformis, dan
merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Dermawan &
Rahayuningsih ,2010).
Menurut David Joseph dalam South
African Medical Journal tahun 2007, angka kejadian terjadinya perforasi
pada apendisitis adalah 20–30%. Menurut David A. Guss dalam The American Journal of Emergency Medicine
tahun 2000, insidensi apendisitis
perforasi pada laki-laki sebanyak 38,7% dan wanita 23,5%. Insidens perforasi
pada apendiks adalah 10% sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia
(Smeltzer dan Brenda, 2001). Angka kejadian apendisitis di
negara berkembang seperti Indonesia mengalami kenaikkan sejalan dengan
pertumbuhan ekonomi dan perubahan gaya hidup manusianya (Santacroce, 2005).
Indikasi ini terlihat dari insidensi penderita apendisitis di Indonesia menduduki
urutan ke empat terbanyak di dunia pada tahun 2006. Satu
dari 15 orang pernah menderita apendisitis dalam hidupnya. Insiden tertingginya
terdapat pada laki-laki usia 10-14 tahun dan wanita yang berusia 15-19 tahun.
Laki-laki lebih banyak menderita apendisitis dari pada wanita pada usia
pubertas dan pada usia 25 tahun (Eylin, 2009). Kemudian
dari data yang dirilis oleh Depkes RI pada tahun 2008 jumlah penderita apendisitis di indonesia mencapai 591.819 orang dan meningkat pada
tahun 2009 sebesar 596.132 orang.
A. Etiologi
Apendisitis
akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai
faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks,
dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga
dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit
seperti E. histolytica (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan
makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikkan
tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan
meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah
timbulnya apendisitis akut (Sjamsuhidajat, De Jong, 2004).
Apendisitis
belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada faktor prediposisi
yaitu:
1. Faktor
yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi
karena:
a.
Heperplasia dari folikel limfoid, ini
merupakan penyebab terbanyak.
b.
Adanya faekolit dalam lumen appendiks.
c.
Adanya benda asing seperti biji –
bijian.
d.
Striktura lumen karena fibrosa akibat
peradangan sebelumnya.
2. Infeksi
kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus.
3. Laki
– laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 – 30 tahun (remaja
dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa
tersebut.
4. Tergantung
pada bentuk appendiks
a.
Appendik terlalu panjang
b.
Massa apendiks yang pendek
c.
Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen
appendiks
d.
Kelainan katup di pangkal appendiks
B. Manifestasi Klinis
Gejala awal yang khas,
yang merupakan gejala klasik apendisitis
adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus
atau periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual, bahkan
terkadang muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa
jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik
ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri
somatik setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah
epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat
pencahar. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya
perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah
sekitar 37,5 -38,5 derajat celcius.
Selain gejala klasik, ada
beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks
ketika meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut:
1.
Bila letak
apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh
sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda
rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul
pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan
mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang
dari dorsal.
2.
Bila apendiks
terletak di rongga pelvis
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada
rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga
peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan
berulang-ulang (diare).
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada
kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya
dindingnya.
Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan
tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak
ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi
perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas.
1.
Pada
anak-anak
Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau
makan. Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam
kemudian akan terjadi muntah- muntah dan anak menjadi lemah dan letargik.
Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis
diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.
2.
Pada orang
tua berusia lanjut
Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas,
sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi
perforasi.
3.
Pada wanita
Gejala apendisitis
sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa dengan
apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang
panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan
trimester, gejala apendisitis berupa
nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa
timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan
apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut
kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.
C. Faktor Risiko
Faktor Risiko
yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya :
1.
Faktor
sumbatan
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting
terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi
disebabkan oleh hyperplasia jaringan lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis
fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh
parasit dan cacing. Obsrtruksi yang disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada
bermacam-macam apendisitis akut
diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana,
65% pada kasus apendisitis akut
ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis
akut dengan rupture.
2.
Faktor
Bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis
primer pada apendisitis akut. Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah
terinfeksi memperburuk dan memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan
stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan
adalah kombinasi antara Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus,
lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus, sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah
kuman anaerob sebesar 96% dan aerob<10%.
3.
Kecenderungan
familiar
Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang
herediter dari organ, apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak
baik dan letaknya yang mudah terjadi apendisitis.
Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam keluarga terutama dengan
diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekolith dan mengakibatkan
obstruksi lumen.
4.
Faktor
ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan
sehari-hari. Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai
resikolebih tinggi dari Negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat
sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan
mereka ke pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya
memiliki tinggi serat kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko
apendisitis yang lebih tinggi.
5.
Faktor
infeksi saluran pernapasan
Setelah mendapat penyakit saluran pernapasan akut
terutama epidemi influenza dan pneumonitis, jumlah kasus apendisitis ini meningkat. Tapi harus hati-hati karena penyakit
infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan seperti gejala permulaan apendisitis.
D.
Patofisiologi
Apendisitis
biasannya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel
limfoid, fekalit, benda asing stiktur karena fibrosis akibat peradangan
sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi
mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun
elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan penekanan
tekanan intralumen. Tekanan meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe
yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri dan uulserasi mukosa. Pada saat
inilah terjadi apendisitis akut fokat yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan
terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah,
dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan
ini tersebut dengan apendisitis
supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi
infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan
apendisitis gangrenosa . Bila dinding
yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis
perforasi.
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum
dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul satu massa
lokal yang disebut infiltrat apendikularis . Peradangan apendiks tersebut dapat
menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kaeran omentum lebih pendek dan
apeks lebih panjang, dinding apenks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah
dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadi perforasi.
Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan
pembuluh darah (Mansjoer,2007).
A.
Klasifikasi
Apendisitis
Adapun
klasifikasi apendisitis menurut Syamsuhidjayat (2004), mengatakan bahwa Apendisitis terdiri dari lima bagian
antara lain:
1.
Apendisitis Akut
Apendisitis akut adalah
peradangan apendiks yang timbul meluas dan mengenai peritoneum pariental
setempat sehingga menimbulkan rasa sakit di abdomen kanan bawah. Hal ini akan
menyebabkan peritonitis. Peritonitis merupakan proses peradangan lokal atau
umum pada peritoneum. Peritonitis disertai rasa sakit yang semakin hebat,
rasa nyeri, kembung, demam dan keracunan.
2.
Apendisitis Infiltrat
(Masa Periapendikuler)
Apendisitis infiltrat
atau masa periapendikuler terjadi bila apendisitis
ganggrenosa di tutupi pendinginan oleh omentum.
3.
Apendisitis Perforata
Ada fekalit didalam lumen, umur
(orang tua atau anak muda) dan keterlambatan diagnosa merupakan faktor yang
berperan dalam terjadinya perforasi apendiks karena dinding apendiks mengalami
ganggren, rasa sakit yang bertambah, demam tinggi, rasa nyeri yang menyebar dan
jumlah leukosit yang tinggi merupakan tanda kemungkinan terjadinya
perforasi.
4.
Apendisitis Rekuren
Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut pertama kali sembuh
spontan, namun apendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi
fibrosis dan jaringan parut. Resikonya untuk terjadinya serangan lagi sekitar
50%.
5.
Apendisitis Kronis
Fibrosis menyeluruh dinding
apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan
ulkus lama di mukosa dan infiltrasi sel inflamasi kronik.
Skor alvarado adalah suatu sistem skoring yang digunakan
untuk mendiagnosis apendisitis akut.
Skor ini mempunyai 6 komponen klinik dan 2 komponen laboratorium dengan total
skor poin 10. Skor ini dikemukakan oleh Alfredo Alvarado dalam laporannya pada
tahun 1986.Adapun cara pengkajian penyakit apendisitis
akut dapat menggunakan Alvarado score:
1.
Skor 1-4
Tidak dipertimbangkan mengalami apendisitis akut
2.
Skor 5-6
Dipertimbangkan kemungkinan Dx apendisitis akut tetapi
tidak memerlukan tindakan operasi segera.
3.
Skor 7-8
Dipertimbangkan kemungkinan mengalami apendisitis akut.
4.
Skor 9-10
Hampir definitif mengalami apendisitis akut dan
dibutuhkan tindakan bedah
A.
Penatalaksanaan
1.
Tindakan Medis
a.
Observasi terhadap diagnosa
Dalam 8 – 12 jam pertama setelah timbul gejala dan
tanda apendisitis, sering tidak
terdiagnosa, dalam hal ini sangat penting dilakukan observasi yang cermat.
Penderita dibaringkan ditempat tidur dan tidak diberi apapun melalui mulut.
Bila diperlukan maka dapat diberikan cairan aperviteral. Hindarkan pemberian
narkotik jika memungkinkan, tetapi obat sedatif seperti barbitural atau
penenang tidak karena merupakan kontra indikasi. Pemeriksaan abdomen dan
rektum, sel darah putih dan hitung jenis di ulangi secara periodik. Perlu
dilakukan foto abdomen dan thorak posisi tegak pada semua kasus apendisitis, diagnosa dapat jadi jelas
dari tanda lokalisasi kuadran kanan bawah dalam waktu 24 jam setelah timbul
gejala.
b.
Intubasi
Dimasukkan pipa naso gastrik preoperatif jika terjadi
peritonitis atau toksitas yang menandakan bahwa ileus pasca operatif yang
sangat menggangu. Pada penderita ini dilakukan aspirasi kubah lambung jika
diperlukan. Penderita dibawa kekamar operasi dengan pipa tetap terpasang.
c.
Antibiotik
Pemberian antibiotik preoperatif dianjurkan pada
reaksi sistematik dengan toksitas yang berat dan demam yang tinggi(Mansjoer,
2000).
2.
Terapi Bedah
Pada apendisitis
tanpa komplikasi, apendiktomi dilakukan segera setelah terkontrol
ketidakseimbangan cairan dalam tubuh dan gangguan sistematik lainnya. Biasanya
hanya diperlukan sedikit persiapan. Pembedahan yang direncanakan secara dini
baik mempunyai praksi mortalitas 1 % secara primer angka morbiditas
dan mortalitas penyakit ini tampaknya disebabkan oleh komplikasi ganggren dan
perforasi yang terjadi akibat yang tertunda (Mansjoer, 2000).
3.
Terapi Pasca Operasi
Perlu dilakukan obstruksi tanda-tanda vital untuk
mengetahui terjadinya perdarahan didalam, syok hipertermia, atau gangguan
pernapasan angket sonde lambung bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi
cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien
dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien
dipuasakan. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau
peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian
berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30
ml/jam. Keesokan harinya diberikan makan saring, dan hari berikutnya
diberikan makanan lunak. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk
tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit. Pada hari kedua pasien dapat berdiri
dan duduk diluar kamar. Hari ketujuh jahitan dapat diangkat dan pasien
diperbolehkan pulang. (Mansjoer, 2000).
- Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Apendisitis
1. Pengkajian
a. Identitas klien
b. Riwayat Keperawatan
1)
riwayat kesehatan saat ini ; keluhan
nyeri pada luka post operasi apendektomi, mual muntah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan leukosit.
2)
Riwayat kesehatan masa lalu
3)
pemeriksaan fisik
a)
Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui
tanda-tanda vital,
ada tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
b)
Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada
tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan
pendarahan, mimisan splenomegali.
c)
Sistem urogenital : Ada tidaknya
ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
d)
Sistem muskuloskeletal : Untuk
mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi
dan terdapat fraktur atau tidak.
e)
Sistem kekebalan tubuh : Untuk
mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.
4)
Pemeriksaan penunjang
a)
Pemeriksaan darah rutin : untuk
mengetahui adanya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi.
b)
Pemeriksaan foto abdomen : untuk
mengetahui adanya komplikasi pasca pembedahan.
2.
Diagnosa
Keperawatan Apendisitis
a.
Pre
operasi
1) Resiko
tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan muntah pre operasi.
2) Gangguan
rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan usus oleh inflamasi.
3) Ansietas
berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
b.
Post
operasi
1) Gangguan
rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya luka post operasi apendektomi.
2) Gangguan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berkurang berhubungan dengan anorexia,
mual.
3) Resiko
tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah. Kurang pengetahuan tentang
perawatan dan penyakit berhubungan dengan kurang informasi.
3. Perencanaan
a. Persiapan umum operasi
Hal yang bisa dilakukan oleh
perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum operasi :
1) Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya
tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya
(orientasi lingkungan).
2) Mengukur TTV
3) Mengukur berat badan dan tinggi badan.
4) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang
penting (Ht, Serum Glukosa, Urinalisa).
5) Wawancara.
4.
Persiapan klien
malam sebelum operasi
Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum
operasi :
a)
Persiapan kulit
1)
kulit merupakan
pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit. Karena operasi merusak
integritas kulit maka akan menyebabkan resiko terjadinya ifeksi.
2)
Beberapa ahli
bedah lebih menyukai mencukur rambut karena bisa mengganggu prosedur operasi.
b)
Persiapan
saluran cerna
Persiapan kasus yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk :
1)
Mengurangi
kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi.
2)
Mengurangi
kemungkinan obstruksi usus.
3)
Mencegah infeksi
faeses saat operasi.
Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan :
a.
Puasa dan
pembatasan makan dan minum.
1)
Pemberian enema
jika perlu.
2)
Memasang tube
intestine atau gaster jika perlu.
3)
Jika klien
menerimaanastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 - 10 jam sebelum
operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro intestinal diberikan malam
sebelum atau pagi sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau
gester.
b.
Persiapan untuk
anastesi
c. Ahli
anastesi selalu berkunjunng pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melekukan
pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan menunjukkan
tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi.
d. Meningkatkan
istirahat dan tidur
e. Klien
pre operasi akan istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada gangguan fisik,
tenaga mentalnya dan diberi sedasi yang cukup.
f. Persiapan pagi hari
sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obat-obatan pre operasi
:
1. Mencatat
tanda-tanda vital
2. Cek gelang
identitas klien
3. Cek
persiapan kulit dilaksanakan dengan baik
4. Cek
kembali instruksi khusus seperti pemasangan infus
Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam
terakhir
6. Anjurkan
klien untuk buang air kecil
7. Perawatan
mulut jika perlu
8. Bantu
klien menggunakan baju RS dan penutup kepala
9. Hilangkan
cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih mudah.
4. Interpesi
pre operasi
1. Obsevasi tanda-tanda vital
2. Kaji intake dan output cairan
3. Auskultasi bising usus
4. Kaji status nyeri : skala,
lokasi, karakteristik
5. Ajarkan tehnik relaksasi
6. Beri cairan intervena
5. kaji tingkat ansietas
6. Beri informasi tentang proses penyakit dan tindakan
5. Intervensi post operasi
1. Observasi
tanda-tanda vital
2. Kaji skala
nyeri : Karakteristik, skala, lokasi
3. Kaji
keadaan luka
4. Anjurkan
untuk mengubah posisi seperti miring ke kanan, ke kiri dan duduk
5. Kaji status
nutrisi6. Auskultasi bising usus
7. Beri
informasi perawatan luka dan penyakitnya.
6. Evaluasi
1).
Gangguan rasa nyaman teratasi
2) Tidak terjadi infeksi
3) Gangguan nutrisi
teratasi
4) Klien memahami
tentang perawatan dan penyakitnya
5) Tidak terjadi
penurunan berat badan
6) Tanda-tanda
vital dalam batas normal
DAFTAR PUSTAKA
Huether
SE. Alterations of digestive system. In: McCance KL, Huether SE. Patophysiology
5th
Ed.Evolve, 2006: 1385-1446
Burner and suddarth, 2001, Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah,-edisi 8,-volume 2,
Jakarta :
EGC.
Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses
Penyakit, Buku Pertama. Edisi
4. Jakarta. EGC.
Brunner
dan Sudarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi
8, Volume 2, Alih
Bahasa dr. H. Y. Kureasa, Editor Monica Ester, SKp. Jakarta
: EGC.
Doengoes, Marilynn, E., 2000, RencanaAsuhanKeperawatan,
EGC, Jakarta.
Mansjoer, Arif, 2000,
KapitaSelektaKedokteran, Media Aesculapius, FKUI,Jakarta.
Smeltzer, C. Suzanne, C.
Brenda, G. Bare, 2001, Buku Ajar KeperawatanMedikalBedah,
Brunner
&Suddarth, EGC, Jakarta.

0 komentar