PENTINGNYA PENDEKATAN TERHADAP SESEORANG SECARA HOLISTIK

18.34

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Menurut O’regan et al, (2010) Pelayanan kesehatan didunia saat ini berusaha menerapkan konsep secara holistik yaitu suatu pendekatan yang memandang manusia secara keseluruhan meliputi pikiran, status emosi, gaya hidup,fisik dan lingkungan sosial. Dengan itu, dalam keperawatan diperlukan adanya suatu perubahan secara holistik dengan merubah cara pikir masyarakat tentang jenis-jenis pelayanan kesehatan yang muncul di dalamnya. Karena perubahan itu merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap (statis) menjadi status yang bersifat dinamis. Artinya dapat menyesuaikan diri dari lingkungan yang ada atau beranjak  mencapai kesehatan yang optimal. Holistik juga merupakan salah satu konsep yang mendasari tindakan keperawatan yang meliputi dimensi fisiologis, psikologis, sosiokultural, dan spiritual. Dimensi tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh.
Dalam pelayanan holistik juga dibutuhkan sikap caring dari seorang tenaga medis karena penyakit yang dialami seseorang bukan saja merupakan masalah fisik yang hanya dapat diselesaikan dengan pemberian obat semata. Pelayanan keperawatan holistik memberikan pelayanan kesehatan dengan lebih memperhatikan keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia yang meliputi kehidupan jasmani, mental, sosial dan spiritual yang saling mempengaruhi. Sikap caring juga harus memperhatikan bady, mint, and spirit seseorang dan memberikan sikap empati, respek, kesejatian terhadap orang lain.

B.      Tujuan Penulisan
1.       Untuk mengetahui teori-teori sikap holistik dalam keperawatan
2.       Untuk mengetahui penerapan sikap holistik dan caring dalam keperawatan
3.       Untuk mengetahui tindakan terhadap orang lain secara utuh
4.       Untuk mengetahui bagaimana berfikir dan bertindak kritis terhadap orang lain

C.      Ruang Lingkup Penulisan
Dalam makalah ini, ruang lingkup tulisan mencakup tentang konsep sehat sakit, rentang sehat sakit, membahas tentang caring. Caring yaitu aspek kepedulian seorang perawat kepada klien yang merupakan ciri khas dari keperawatan. Salah satu cara yang dilakukan perawat sebagai wujud caring yaitu  empati, respect dan lain sebagainya, serta aspek holistic.Aspek komunikasi terapeutik dengan tujuan mendapatkan feedback yang positif dari orang lain. Serta di bahas juga aspek holistic merupakan cara memahami orang lain secara menyeluruh yang meliputi body, mind, dan spirit.




BAB II
ILUSTRASI KASUS
Dalam kesempatan wawancara kali ini, saya mewawancarai seorang berinisial H. Nn H berasal dari lamongan ia adalah seorang pelajar yang masih duduk dibangku MA kelas 10 di sekolah pesantren sendang nduwur paciran. Ia termasuk salah satu siswa yang berprestasi dalam bidang akademik dan sering mengikuti berbagai lomba ataupun kompetisi untuk mewakili sekolahnya  serta sibuk dengan kegiatan organisasi yaitu OSIS. Dia aktif dalam berbagai kegiatan disekolah dan pesantren sehingga ia sering kelelahan dan jatuh sakit akan tetapi ia merasa bahwa dirinya sehat dan kuat menjalani aktifitasnya. 3 bulan yang lalu, ia mulai merasa ada perbedaan dalam kondisi fisiknya ketika kelelahan, dia sering merasakan ngilu di bagian persendian dan saat dia terkena panas matahari  dia merasakan panas yang lebih dibandingkan dengan biasanya, dia berkata bahwa “rasanya panas seperti terbakar”. Sesaat setelah merasakan panas tersebut, tubuhnya mengeluarkan bercak-bercak kemerahan di bagian permukaan kulit. Di dunia kedokteran, penyakit tersebut biasa disebut dengan Butterfly. Dan terkadang kakinya tidak dapat digerakkan, sering sariawan, mens yang tidak teratur dan jika penyakit tersebut muncul maka seluruh badan akan terasa sakit. Setalah merasakan gejala-gejala yang dialami, ia menceritakan kepada teman dekat dan orang tuanya tentang gejala serta berubahan kondisi tubuhnya. kemudian mereka antusias untuk memeriksakannya ke pukesmas pesantren dulu. Dia  di diagnosa terkena penyakit Lupus dan diberi surat rajukan untuk periksa tes DNA dan diperiksa lebih lanjut dirumah sakit. Ketika periksa dirumah sakit, dokter menanyakan dahulu keluhan-keluhan yang ia rasakan kemudian ia diperiksa dilab untuk tes darah dan tes urine setelah itu di periksa diradiologi untuk rontgen ternyata hasilnya Positif bahwa Nn H dinyatakan terkena penyakit Lupus dimana Faktor penyebab penyakit lupus kemungkinan besar adalah Keterlibatan faktor genetik, hormon, dan lingkungan. Pengobatan penyakit lupus ini masih belum diketahui oleh berbagai medis dan dokter menyarankan untuk segera mendapatkan suntik cairan kedalam tubuhnya karena virus yang berada didalam tubuhnya sudah tersebar sehingga ia membutukan dosis yang tinggi apabila pengobatan pertama kali diberi obat padat yang dosisnya terlalu tinggi maka lambungnya tidak kuat karena ia penah mengalami penyakit asam lambung. Setelah itu, ia sekali dalam tiga minggu harus cek up selama 2 tahun.  ia senang karena kondisi badannya mulai membaik selama proses pengobatan, akan tetapi ia merasa sedih juga karena banyak sekali pantangan yang harus ia lewati apalagi ia termasuk orang yang tidak suka diatur, seperti mengurangi aktifitas, tidak boleh terlalu banyak makan gorengan, tidak boleh terkena  asap rokok, mengkonsumsi makanan yang mengandung zat adiktif, dan ia mengeluh ketika tidak boleh makan-makanan yang terlalu pedas. Apalagi ia harus mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter yang harus diminum secara teratur, dia berkata, “pokoknya rasanya gak enak banget, banyak aturan”. Akan tetapi ia yang belum bisa mengontrol keinginan makan makanan yang pedas, ketika selesai makan-makanan pedas ia sering mengeluh perutnya sakit. Ia mengatakan bahwa ia menyesal tidak mengikuti anjuran dokter untuk tidak makan makanan yang pedas. Saya menyarankan agar ia mematuhi anjuran dokter karena jika ia sakit maka akan sangat mengganggu aktivitasnya . Ia mulai sadar bahwa menjaga kesehatan itu penting dan ia mulai menerapkan pola hidup sehat khususnya pola makan ataupun mengontrol aktifitas yang terlalu berat serta mematuhi saran yang diberikan oleh dokter.



BAB III
PEMBAHASAN
                Menurut WHO (1947) sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik,mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Mengandung 3 karakteristik:
1.       Merefleksikan perhatikan pada individu sebagai manusia.
2.       Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan eksternal.
3.       Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif
Sehat bukan merupakan suatu kondisi tetapi merupakan penyesuaian, bukan merupakan suatu keadaan tapi merupakan proses. Proses disini adalah adaptasi individu yang hanya terhadap fisik mereka tetapi terhadap lingkungan sosialnya.
UU No.23,1992 tentang  Kesehatan menyatakan bahwa:
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari-hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.
Berdasarkan kasus diatas, dapat dijabarkan bahwa Nn H sering kelelahan dan jatuh sakit ketika kegiatan aktifitasnya sangat banyak akan tetapi ia merasa bahwa dirinya sehat dan kuat untuk menjalani aktifitasnya. ia mulai merasa ada perbedaan dalam kondisi fisiknya dan adanya gejala –gejala yang timbul pada dirinya, Seperti teori yang disebutkan oleh menurut Bauman (1965) Seseorang akan menggunakan 3 kriteria untuk menentukan apakah mereka sakit: 1.Adanya gejala: nyeri, perubahan temperatur, 2. Persepsi tentang bagaimana mereka mengekspresikan rasa sakit yang di derita, 3. Kemampuan mereka untuk beraktifitas seperti biasa.
Terkaitan antara konsep diatas dengan kasus yang dialami oleh klien yaitu  Nn H dinyatakan sakit karena klien mengalami perubahan kondisi dan fungsi normal tubuhnya. Hal ini sesuai dengan pengertian sakit yang dikemukakan oleh Pemons pada tahun 1972 yaitu dapat dilihat dari kondisi Nn H . bahwa ia mulai merasa ada perubahan pada kondisi tubunya seperti gejala- gejala yang tidak pernah ia rasakan.
Adapun kasus yang terkait dengan Nn. H bahwa Setalah ia merasakan gejala-gejala yang dialami, ia menceritakan kepada keluarganya tentang gejala serta berubahan kondisi tubuhnya.  Hal ini berati peran keluarga dapat mempengaruhi keyakinan dan pelaksanaan kesehatan seseorang karena keluarga yang sehat akan membantu anggota keluarganya mencapai potensi mereka yang paling besar. Yaitu ketika Nn H menceritakan kemudian keluarganya antusias untuk bergegas memeriksakannya ke ahli medis.
                Rentang sehat sakit adalah suatu skala ukur hipotensis untuk mengukur keadaan sehat/ kesehatan seseorang, kedudukan seseorang pada skala ter5sebut bersifat dinamis dan individual karena dipengaruhi oleh faktor pribadi dan lingkungan. Pada skala ini sewaktu – waktu seseorang bisa berada dalam keadaan sehat namun dilain waktu bisa bergeser keadaan sakit. Tahapan sakit menurut suchman terbagi menjadi 5 tahap yaitu:
1.       Tahap I (mengalami gejala )
Pada tahap I ini berdasarkan kasus yang terkait diatas. Dimana Nn H mengalami gejala –gejala yang dirasakan seperti merasa ada berbedaan dalam kondisi fisiknya ketika kelelahan, ia sering merasakan ngilu di bagian persendian. Saat terkena panas matahari merasakan panas yang lebih dibandingkan dengan biasanya. Sesaat setelah merasakan panas tersebut, tubuhnya mengeluarkan bercak-bercak kemerahan di bagian permukaan kulit, terkadang kakinya tidak dapat digerakkan, sering sariawan, mens yang tidak teratur dan jika penyakit tersebut muncul maka seluruh badan akan terasa sakit.
2.       Tahap II (Asumsi Tentang Peran Sakit)
Dalam tahap II yaitu asumsi peran sakit dimana seseorang yang mengalami penegasan atas rasa sakitnya terhadap keluarga ataupun teman dekatnya. Pada kasus diatas bahwa Nn H menceritakan kepada teman dekatnya dan orang tuanya bahwa dia mengalami gejala- gejala tersebut. Saat Orang tuanya mengetahui gejala  yang dirasakan Nn H, mereka bergegas untuk melakukan konsultasi kepada ahli medis.
3.       Tahap III (Kontak dengan Pelayanan Kesehatan)
Dalam tahan III yaitu kontak pelayanan kesehatan yaitu individu atau seseorang konsultasi kepada pelayanan kesehatan dan si klien mengatakan secara kevalidasian tentang gejala yang dialami. Pada kasus diatas dijelaskan bahwa Nn H menceritakan gejala- gejala yang dirasakan serta keadaan yang dirasakan.
4.       Tahap IV (Peran Klien Dependen)
Dalam tahan IV yaitu Peran pelayanan klien dependen suatu penderita atau individu didiagnosa sakit oleh pelayan kesehatan sehingga si klien menerima keadaan sakit dan tergantung pada pemberi pelayanan kesehatan untuk menghilangkan gejala-gejala yang ada dan diharapkan si klien menerima perawatan, empati, respek, kesejatian dan perlindungan. Pada kasus diatas dijelaskan bahwa dokter mengdianognis Nn H mengidap penyakit Lupus dan dokter menyarankan untuk segera mendapatkan suntik cairan kedalam tubuh Nn. H karena virus yang didalam tubuhnya sudah menyebar dan menyarakan kepada Nn H untuk mengurangi aktifitas, tidak boleh terlalu banyak makan gorengan, tidak boleh terkena asap rokok, mengkonsumsi makanan yang mengandung zat adiktif sehingga akan membantu proses penyembuhan.
5.       Tahap V (Pemulihan dan Rehabilitasi)
Dalam tahap V yaitu pemulihan dan rehabilitas  suatu pelayanan yang berhak memberikan fasilitas dan pelayanan yang. Pada kasus diatas yang terkait dimana Nn H sekali dalam tiga minggu harus cek up selama 2 tahun untuk proses penyembuhannya.


                 
BAB IV
KESIMPULAN dan REFLEKSI DIRI
v  Kesimpulan
Berdasarkan penulisan diatas dapat disimpulkan bahwa  setiap orang itu presepsinya berbeda- beda tentang konsep sehat- sahit. Dengan halnya salah satu induvidu yang kondisi fisiknya sakit tetapi ia menganggap bahwa dirinnya masih sehat dan kuat dengan memaksakan kehendaknya dengan tetap melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan. Dalam melakukan praktek keperawatan membutuhkan proses penyembuhan seorang yang tidak akan pernah komplate sebelum sadar terhadap dirinya secara hody, mind, spirit. Seperti halnya memberikan asuhan keperawatan holistic dengan penyembuhan secara menyeluruh baik dari bio-psiko-sosio-cultural-spitual dan memandang pasien itu sebagai pribadi yang unik, utuh dan berkembang. Dimana system yang yang sangat penting yaitu dengan komunikasi terapeutik, sebuah cara sistematis yang berkaitan dengan orang lain yang meningkatkan masalah pribadi seperti menggunakan ketrampilan komunikasi khusus yang mendukung eksplorasi diri, dan menawarkan umpan balik kepada klien. Asuhan keperawatan yang sangat penting dalam komunikasi teraupetik yaitu membangun suatu hubungan dengan cara empati, respek, kesejatian, konkrit. Membantu klien untuk mengintegrasikan pemahan tentang pola pribadi yaitu dengan teknik  empati adiktif, pengungkapan diri, feedback, konfrontasi, kedekatan. Membantu klien dalam mengambil tindakan dengan pemecahan masalah, mendukung, dan rencana . Dan menerapkan sikap caring karena itu sebagai suatu kemampuan untuk derdedikasi bagi orang lain, pengawasan waspada serta perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyanyangi. Dengan itu masyarakat kan menilai dan mengetahui bagaimana proses atau pelayanan yang diberikan oleh Perawat sebenarnaya.
v  Refleksi Diri
Refleksi diri  penulisan ini sebagai mahasiswa mempelajari dan memahami konsep sehat-sakit. Dan apalagi kita seorang calon perawat yang harus harus memberikan pelayanan kesehatan dengan lebih memperhatikan keutuhan aspek kehidupan sebagai manusia yang meliputi kehidupan jasmani, mental, sosial dan spiritual yang saling mempengaruhi, harus mampu mengembangkan kesadaran diri, meningkatkan ketrampilan kompetesi terapeutik (kemampuan yang menyembuhkan atau segala sesuatu yang mengfasilitasi penyembuhan), memahami lebih dalam tentang sesuatu, menumbuhkan kesadaran dengan berbagai pengalaman, dan mampu mengembangkan ataupun menerapkan konsep holistik dalam pelayanan kesehatan. Sehingga perawat dan klien bisa menjalin hubungan yang  sinergis dan baik.





DAFTAR PUSTAKA
Potter, P. A & Perry, A. G.(2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan : konsep, proses, dan praktik. Jakarta: EGC
Futsal D L. Holistic Care .Diakses pada 01 januari 2015, dari http://www.scribd.com/doc/135026468/Makalah-Holistic-Care#scribd

You Might Also Like

0 komentar

Pengikut

Total Tayangan Halaman